Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

SENSITIVITAS GENDER DALAM PENDIDIKAN

SENSITIVITAS GENDER DALAM PENDIDIKAN - PELAJAR MEDIA



A. Aktivitas 1: Menggambar profesi

1. Fasilitator meminta peserta untuk membuat sketsa sebuah profesi. Pada kertas/buku catatan mereka, peserta harus membuat sketsa salah satu profesi berikut:

  • Ahli bedah
  • Petugass Damkar
  • Pilot

2. Setelah itu, tayangkan film tentang stereotip dan label gender di masyarakat. Dalam video tersebut, anak-anak memiliki prasangka gender terkait pekerjaan tertentu. Mereka menghubungkan pekerjaan maskulin (misalnya, pilot, pemadam kebakaran, dokter) dengan laki-laki, tetapi terkejut mengetahui bahwa pekerjaan serupa juga dilakukan oleh perempuan.

3. Fasilitator kemudian mendorong peserta untuk memeriksa gambar yang telah disiapkan sebelumnya dan menawarkan pertanyaan seperti:

  • Apakah dikatakan profesi perempuan atau laki-laki gambar profesi tersebut?
  • Berapa banyak dari foto-foto itu perempuan dan berapa banyak laki-laki dalam suatu profesi? Manakh yg lebih bnyak?

4. Fasilitator memimpin diskusi kelompok dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Bagaimana tanggapn Anda tentang video tersebut?
  • Mengapa Mengapa anak-anak berpikir begitu berbeda?
Gambar 1.1. SENSITIVITAS GENDER DALAM PENDIDIKAN - PELAJAR MEDIA

5. Setelah itu, fasilitator menekankan bahwa pelabelan/ stereotip gender sering terjadi di masyarakat, di mana perempuan dan laki-laki dipisahkan dalam peran. Klasifikasi ini didasarkan pada asumsi dan dilakukan oleh anak kecil, bukan pada kebutuhan. Fasilitator mungkin dihubungkan dengan sebuah film yang menjelaskan bagaimana anak-anak berusia 5-7 tahun mengembangkan stereotip gender. Stereotip gender berbahaya karena mengarah pada ketidakadilan bagi perempuan dan laki-laki. Fasilitator dapat merujuk ke Catatan 1 untuk menjelaskan.

Catatan 1

Stereotip (pelabelan) adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dikategorikan. Stereotip merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.Namun, stereotip dapat berupa prasangka negatif, dan seringkali dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif.

Stereotip gender adalah pelabelan tentang apa yg pantas utk perempuan & laki-laki berdasarkn asumsi. Stereotip ini dikaitkan dengan konsep maskulinitas yg biasanya diidentikkan dgn laki-laki dan femininitas yg biasanya diasosikan dgn perempuan. Stereotip gender berdampak negatif karna cenderung merendahkn atau mengucilkan gender tertentu yg pd akhirnya mengakibatkn ketidakadiln baik bagi wanita ataupun pria.

Contoh Stereotif Gender: Wanita lebih baik dalam memasak dan merawat anak daripada pria, anak laki-laki lebih baik dalam berhitung daripada anak perempuan, anak perempuan lebih baik dalam bahasa dan seni daripada anak laki-laki, dll.


B. Voting dan Diskusi

1. Fasilitator memimpin latihan pemungutan suara dan percakapan tentang ketidaksetaraan gender di kelas dan sekolah.

  • Setiap peserta menerima 10 biji jagung untuk digunakan dalam pemungutan suara pada pernyataan yang ditempel di flip board di depan ruangan.
  • Jika ucapan tersebut sering diucapkan di kelas atau di sekolah, peserta memilih dengan memasukkan biji jagung ke dalam kotak di sebelah pernyataan; jika tidak, mereka tidak memilih.
  • Peserta dapat menawarkan lebih dari satu biji jagung dalam satu komentar. Lebih banyak biji jagung menunjukkan komentar yang lebih relevan di kelas atau sekolah.
  • Setelah setiap orang memiliki biji jagung dan memahami instruksi pemungutan suara, undang mereka ke flip chart, pernyataan, dan berikan suara.
  • Fasilitator memverifikasi bahwa semua peserta telah memberikan suara dan sesi pemungutan suara telah berakhir.
2. Setelah voting, fasilitator memulai diskusi singkat dengan contoh alur sebagai berikut:
  • Sebagai contoh, ketua kelas pada umumnya adalah anak yang paling banyak menerima suara biji jagung. Sesuatu menunjukkan seberapa sering ini terjadi di kelas atau sekolah.
  • Jadi mengapa umumnya laki-laki yang memimpin kelas? Umumnya, jawaban peserta mencakup atribut, kepribadian, atau kebiasaan yang membuat laki-laki tampak lebih layak menjadi ketua kelas. Anak laki-laki lebih keras dan lebih memaksa, adalah respons yang umum. Fasilitator selanjutnya meminta kelompok untuk mendiskusikan apakah karakteristik yang terkait dengan laki-laki dapat dikaitkan dengan perempuan secara setara. Misalnya, tidak bisakah wanita bersikap tegas dan lantang? Apakah pria dilahirkan padat dan keras? Ketegasan dan suara yang riuh mungkin
  • Dengan asumsi bahwa sifat-sifat ini dapat dipelajari dan dimiliki oleh anak perempuan dan laki-laki, peran pemimpin kelas harus diberikan kepada perempuan.
  • Asumsi bahwa hanya laki-laki yang bisa tegas dan lantang adalah stereotip gender.
3. Fasilitator menanyakan dampak dari disparitas gender ini. Perempuan dan laki-laki sama-sama terpengaruh oleh masalah gender.

4. Fasilitator dapat menerapkan alasan berikut untuk menunjukkan kemungkinan terjadinya ketidaksetaraan/diskriminasi gender:

  • Dalam situasi di atas, di mana hanya laki-laki yang diperbolehkan menjadi pemimpin kelas, apakah ada kemungkinan diskriminasi terhadap anak perempuan atau laki-laki? Bagaimana jika seorang perempuan hanya melihat laki-laki sebagai ketua kelas? Apakah ini akan menginspirasi atau mengecilkan hati perempuan yang ingin menjadi ketua kelas atau posisi penting lainnya?
  • Ketidakadilan/diskriminasi berbasis gender muncul ketika keinginan seseorang untuk berpartisipasi dalam kehidupan dibatasi. Ketidakadilan/diskriminasi berdasarkan disparitas gender bersifat diskriminatif.
5. Gunakan Catatan Fasilitator untuk lebih memahami peran gender yang dapat dipertukarkan. 

CATATAN 2

  • Jenis kelamin atau gender mengacu pada peran biologis yang tidak dapat ditukar oleh perempuan dan laki-laki. 
  • Membesarkan anak, memasak, dan mencari nafkah adalah contoh tugas yang dapat dilakukan oleh semua jenis kelamin (misalnya kuat, lembut, tegas, dll.).
  • Disparitas gender dalam masyarakat didasarkan pada prasangka gender tentang peran dan pekerjaan perempuan dan laki-laki.
  • Asumsi atau prasangka tentang gender mengarah pada diskriminasi dan ketidakadilan dengan membatasi partisipasi sosial perempuan atau laki-laki (misalnya karena stereotip bahwa profesi astronot lebih cocok untuk laki-laki, anak perempuan menjadi enggan untuk bercita-cita bekerja). (Karena stereotip bahwa profesi astronot lebih pantas dilakukan oleh laki-laki, anak perempuan menjadi enggan untuk bercita-cita menjadi astronot).


C. Pemaparan

1. Untuk menganalisa apakah pembedaan gender yang dilakukan inklusif atau justru diskriminatif, guru dapat mengajukan dua pertanyaan pemicu kepada dirinya sendiri:

  • Mengapa?Apakah pembedaan antara perempuan dan laki-laki berdasarkan kebutuhan? 
  • Apa Dampaknya? Apakah ada potensi ketidakadilan/diskriminasi terhadap perempuan atau laki-laki karena pembedaan tersebut?

Jika tidak ada kebutuhan dan ada potensi diskriminasi, maka pembedaan yang dilakukan diskriminatif.

2. Fasilitator menyimpulkan sesi dengan menjelaskan mengenai siklus terjadinya isu gender. Stereotip gender mengenai apa yang pantas untuk perempuan dan laki-laki melahirkan pembedaan gender di masyarakat. Pembedaan ini mengkotak-kotakan perempuan dan laki ke dalam peran-peran dan profesi tertentu sesuai gender mereka. Selanjutnya, pembedaan gender melahirkan ketidakadilan/diskriminasi saat perempuan atau laki-laki merasa direndahkan, dikucilkan atau terbatasi sehingga tidak dapat berpartisipasi secara optimal di dalam masyarakat. Saat ketidakadilan/diskriminasi itu terjadi maka itu lah yang disebut dengan isu gender. Siklus ini berputar lagi di mana isu gender kembali memperkuat stereotip gender dalam masyarakat. Dalam menyimpulkan, fasilitator dapat menggunakan Catatan Fasilitator 4 sebagai referensi. 

Catatan Fasilitator 4

Merujuk kembali kepada diskusi awal mengenai inklusi sosial, pembedaan individu diperbolehkan jika berdasarkan kebutuhan. Inilah yang disebut dengan mengakomodasi perbedaan kebutuhan. Namun jika pembedaan tidak berdasarkan kebutuhan maka yang terjadi adalah ketidakadilan dan diskriminasi. Pembedaan antara perempuan dan laki-laki yang tidak berdasarkan kebutuhan berujung pada diskriminasi berbasis gender yang dampaknya dirasakan terutama oleh perempuan.

Jika ditelaah prosesnya, pembedaan ini berawal dari stereotip gender yang kemudian berujung pada ketidakadilan dan perilaku diskriminatif. Jika sudah ada diskriminasi maka ini lah yang disebut dengan isu gender. Isu dan permasalahan gender ini kemudian menyumbang pada makin runcingnya stereotip gender dan pembedaan gender.

Contoh yang bisa digunakan adalah diskriminasi berbasis gender dalam pendidikan, sebagaimana berikut:

Stereotip gender: mencari nafkah adalah tugas laki-laki. 

Pembedaan gender: anak laki-laki harus diprioritaskan untuk mendapatkan pendidikan tinggi.

Ketidakadilan dan diskriminasi: anak perempuan tidak boleh bersekolah tinggi. 

Isu gender: 

  • Angka partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi lebih rendah daripada laki-laki. 
  • Angka partisipasi kerja perempuan lebih rendah daripada laki-laki. 
  • SeKtor pembangunan didominasi oleh laki-laki yang berpendidikan tinggi. 
  • Upah karyawan perempuan lebih rendah daripada laki-laki.
Berikut Pelajar Media lampirkan link Download PPT SENSITIVITAS GENDER DALAM PENDIDIKAN DISINI

Posting Komentar untuk "SENSITIVITAS GENDER DALAM PENDIDIKAN"