HEADLINE
---

TOLERANSI DALAM KEBERAGAMAN

PELAJAR MEDIA - TOLERANSI DALAM MENGHADAPI KEBERAGAMAN

A. KOMPETENSI YANG DIINGINKAN

1. Pedagogis

  • Menyiapkan guru madrasah yang mampu membuat perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa yang beragam/heterogen
  • Menyiapkan guru madrasah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran yang dapat mendorong berkembangnya potensi siswa secara adil dan proporsional
  • Menyiapkan guru madrasah yang mampu melaksanakan evaluasi pembelajaran secara objektif dan komprehensif
  • Menjadikan guru madrasah sebagai model hidup sikap Toleransi


2. KOMPETENSI PROFESIONAL

Menyiapkan pengajar madrasah yang mampu menghasilkan bahan ajar yang kreatif dan inovatif yang sesuai dengan berbagai gaya belajar siswa.

Gambar 1.1. Toleransi Dalam Keberagaman - Pelajar Media


B. Tujuan

  1. Peserta akan dapat: Memahami pengertian mendasar tentang toleransi dalam konteks kebhinekaan setelah mengikuti workshop ini.
  2. Di madrasah, mengaktualisasikan cita-cita toleransi itu penting (belajar untuk setiap mata pelajaran dan lainnya)


C. Langkah-langkah yang terlibat dalam kegiatan

1. PENDAHULUAN DAN BRAINSTORMING (sepuluh menit)

MENGAPA SIKAP TOLERANSI SANGAT  DIBUTUHKAN DI INDONESIA?


2. BAHAN PRESENTASI 20' Keberagaman Bangsa Indonesia

Terletak di Asia Tenggara, Indonesia adalah negara multikultural dengan 17.504 pulau, 1.340 suku bangsa, dan 546 bahasa. Pancasila didedikasikan untuk melestarikan keanekaragaman ini. Dilihat dari segi agama, keragaman adalah anugerah dan kehendak Tuhan, sesuai dengan Firman Allah SWT dalam QS. Al Hujurat/49 ayat 13.


Kasus intoleransi telah dilaporkan di Indonesia

  1. SISWA SMAN 2 DENPASAR DIPAKSA MENGGUNAKAN JUDUL SEBAGAI BAGIAN LARANGAN SBUARA HIJAB. INFORMASI INI TERSEBAR SETELAH SISWA SMAN 2 DENPASAR DIBUTUHKAN MENGGUNAKAN JUDUL. (21 Februari 2014)
  2. Siswa SMAN 1 Maumere tidak diperkenankan memakai jilbab dengan alasan sebagai berikut: FATIMAH AZZAHRA, SISWA KELAS X SMAN 1 MAIMRE, KABUPATEN SIKKA, NTT DILARANG MENGGUNAKAN JILBAB DENGAN ALASAN SEKOLAH MELAKSANAKAN DISIPLIN DALAM SERAGAM BERDASARKAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN (MEDIA NTT, 28 AGUSTUS 2017)


PERLU PEREKAT: Moderasi beragama untuk mempererat  Ukhuwah Islamiyah  Ukhuwah Wathoniyah, ukhuwah basyariyah.


Moderasi Beragama Bukan Moderasi Agama:

  1. Moderasi dalam Keyakinan Beragama Tidak Perlu Moderasi Agama: Agama tidak membutuhkan moderasi karena agama sendiri mengajarkan konsep moderasi, keadilan, dan keseimbangan (Al Baqarah: 143)
  2. Akibatnya, bukan agama itu sendiri yang harus diubah, melainkan cara pandang dan sikap umat beragama dalam memahami dan mengamalkan agamanya yang harus dimoderasi.
  3. Tidak ada agama yang mengajarkan ekstremisme, tetapi ada sebagian kecil individu yang memahami dan menganut prinsip-prinsip agama mereka sampai titik ekstrim.


4 Indikator Moderasi Beragama yang Harus Diperhatikan

  1. Komitmen dalam skala nasional. Penerimaan terhadap nilai-nilai dasar bangsa, sebagaimana termaktub dalam UUD 1945 dan peraturan-peraturan yang diundangkan di bawahnya. Indikasi ini sering digunakan sebagai indikator ekstremisme, yang biasanya dikaitkan dengan keinginan untuk mengubah struktur sosial dan politik saat ini dan penodaan Pancasila, yang disebut sebagai taghut dalam konteks ini.
  2. Upaya Anti-Kekerasan. Menolak penggunaan kekerasan dalam penyelesaian masalah, seperti dalam mewujudkan reformasi yang diinginkan.
  3. Toleransi. Sikap memberi ruang pada orang dan tidak mengganggu hak mereka untuk berpikir, mengungkapkan pikiran, dan mengungkapkan pendapat, bahkan jika keyakinan mereka bertentangan secara diametral dengan keyakinan kita sendiri. Akibatnya, toleransi didefinisikan sebagai sikap terbuka, lapang, sukarela, dan baik hati terhadap perbedaan sambil menoleransinya.
  4. Dapat beradaptasi dengan budaya lokal. Adat dan budaya lokal lebih mudah diterima oleh orang-orang moderat dalam hal perilaku keagamaan mereka; ini benar selama tradisi dan budaya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama.


3. Tanya jawab: 05'

APA YANG ANDA MAKSUDKAN DENGAN TOLERANSI?

  1. KBBI: Menghargai, membolehkan, membiarkan pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendirian sendiri. (KBBI)
  2. MUI: Menghormati dan menghargai antar kelompok / antar individu dlm masyarakat / dlm lingkup lainnya.


APA YANG ADA DALAM CARA PEMBATASAN TOLERANSI?

  1. Tidak menyangkut masalah aqidah dan ibadah ushuliyah antar umat beragama dan antara umat seagama (Al-Kafirun & Al-Hujurat: 10 & 13)
  2. Tidak bertentangan dengan kesepakatan umum dalam berbangsa dan bernegara (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia)
  3. Tidak ditemukan pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan dalam (Al-Maidah: 32, An-Nisa: 29)
  4. Tidak menimbulkan keributan dalam ketertiban umum (Al-Anbiya':107).


4. DISKUSI DALAM KELOMPOK (10')

Untuk memudahkan diskusi, fasilitator membagi peserta menjadi lima kelompok (tentatif sesuai jumlah peserta)

Fasilitator mengajukan pertanyaan yang harus dijawab melalui percakapan kelompok, seperti di bawah ini:

  • Bagaimana aspek keberagaman yang dapat menimbulkan intoleransi di madrasah?
  • Bagaimana aktualisasi nilai-nilai toleransi di lingkungan mdrasah?

Dalam flipchart, peserta mencatat hasil pembicaraan mereka. Setelah itu, mereka menyepakati satu orang yang akan bertindak sebagai juru bicara presentasi hasil diskusi kelompok.

Fasilitator mempersilahkan juru bicara kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi kelompoknya; peserta dari kelompok lain mencatat topik utama dan kemudian dapat mengajukan pertanyaan atau menanggapi; dan fasilitator menutup sesi.

Setelah diskusi menyeluruh tentang presentasi dan jawaban dari peserta, fasilitator menutup topik utama.


ALAT DAN BAHAN UNTUK DISKUSI

1. Video

2. Flipchart (opsional)

3. Spidol

4. Double Tip/ isolasi

5. Gunting


Presentasi/pameran karya (sepuluh menit) 5.


REFLEKSI DAN UMPAN BALIK LIMA MENIT

TINGKAT KEANEKARAGAMAN DI MADRASAH, LINGKUNGAN YANG BERPOTENSI INTOLERAN

Perbedaan:

1. Suku dan ras;

2. Sejarah kelompok Islam (seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Wahabi, Jama'ah Islam, dan lain-lain);

3. Pengaruh Madzhab

Berpengaruh terhadap:

1. Manajemen SDM (pemilihan Kamad, Wakil Kamad, dsb)

2. Soliditas antar warga madrasah (guru, tendik, dan siswa)


Petunjuk “Pelaksanaan Moderasi Beragama” berikut ini terdapat dalam KMA 184:

  1. Setiap guru mata pelajaran wajib menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada siswanya.
  2. Mengajarkan anak-anak pentingnya moderasi beragama adalah kurikulum rahasia yang berbentuk pembiasaan, pembudayaan, dan pemberdayaan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
  3. Guru tidak wajib mengikutsertakan pelaksanaan penanaman nilai moderasi beragama kepada siswa dalam RPP-nya, tetapi dituntut untuk mengkondisikan lingkungan kelas dan membentuk kebiasaan yang memungkinkan terbentuknya budaya berpikir moderat di lingkungan kelas. agama dan transmisi pesan moral kepada siswa.


Pelaksanaan di Madrasah:

  1. Meskipun moderasi beragama tidak diajarkan sebagai mata pelajaran yang terpisah, isinya terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran yang diajarkan oleh PAI, khususnya pada kelompok mata pelajaran PAI (yang meliputi Al-Quran dan Hadis, Fikih, juga dikenal sebagai tasawuf, dan Sejarah Kebudayaan Islam, atau SKI). Selain itu, kelas Tafsir/Tafsir dan Usul Fiqh ditawarkan di tingkat MA.
  2. Aspek moderasi juga dimasukkan ke dalam pengajaran bahasa Arab dalam konteks setting madrasah.
  3. Substansi moderasi secara substantif terkandung dalam sub bab semua topik, baik secara implisit maupun eksplisit, dan tergabung dalam semua mata pelajaran.

DI MADRASAH, CONTOH AKTUALISASI SIKAP TOLERANSI

  1. Penting untuk tidak meremehkan teman karena perbedaan warna kulit atau suku serta agama, budaya, dan tradisi.
  2. Tidak mengungkit-ungkit masalah terkait SARA selama pemilihan jabatan.
  3. Tidak mengungkit-ungkit masalah terkait SARA saat kampanye pemilu OSIS.
  4. Tunjukkan rasa hormat kepada orang-orang yang memiliki aliran pemikiran yang berbeda dari Anda;
  5. Menunjukkan rasa hormat kepada semua orang di madrasah, tanpa memandang pangkat atau fungsinya, termasuk pengajar, kepala madrasah, satpam, penjaga madrasah, penjaga kantin, dan sebagainya; dan
  6. Khusus untuk pengajar Mata Pelajaran Agama, mengekspos siswa ke berbagai aliran pemikiran/pendapat tentang praktik dan ritual keagamaan.


Silahkan Download PPT/Power Point Materi "Toleransi Dalam Keberagaman" DISINI 

Posting Komentar