KESADARAN FONOLOGIS

KESADARAN FONOLOGIS,KESADARAN FONOLOGIS (PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BIDANG LITERASI UNIT PEMBELAJARAN 5),FONOLOGIS,LITERASI UP 5

KESADARAN FONOLOGIS (PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BIDANG LITERASI UNIT PEMBELAJARAN 5) - PELAJAR MEDIA

A. Pendahuluan

Keterampilan abada 21 menyatakan bahwa keterampilan literasi dasar menjadi kebutuhan utama generasi mendatang. Selain keterampilan literasi dasar, keterampilan karakter juga menjadi keterampilan yang tidak kalah pentingnya dikuasi peserta didik agar mendapat kesuksesan di masa depannya.

Literasi tidak bisa dilepaskan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kurikulum Pendidikan Indonesia juga menjadikan Bahasa Indonesia sebagai penghela bagi mata pelajaran lainnya. Ini sejalan dengan pernyataan bahwa ”Peserta didik kelas awal belajar membaca dan peserta didik kelas tinggi membaca untuk belajar”.

Peserta didik sangat membutuhkan kemampuan literasi untuk belajar lebih lanjut di mata pelajaran lainnya. Dalam belajar bahaa, peserta didik melalui proses dan tahapan yang poerlu disiapkan dengan baik.

Siswa kelas 1, 2, dan 3 SD/Madrasah Ibtidaiyah berada pada tahap awal membaca. Siswa berusaha untuk membuat suku kata dan kata dari huruf dalam proses ini. Tugas membaca pertama akan lebih sederhana bagi siswa yang sudah mengenal bunyi huruf daripada bagi siswa yang belum mampu menghubungkan bunyi dan simbol.

Selain itu, siswa yang baru mulai belajar menulis sangat diuntungkan dengan pemahaman yang baik tentang bunyi huruf. Dia akan lebih mampu menulis surat jika dia terbiasa dengan suara yang mereka buat.

Mendengarkan, mengidentifikasi, dan memanipulasi bunyi bahasa disebut kesadaran fonologis. Menggunakan suara-suara ini untuk mengucapkan kata-kata serta menciptakan kata-kata baru adalah semacam bakat lisan yang dipelajari siswa di sekolah.

Karena itu, instruktur harus merencanakan kursus membaca mereka dengan cermat untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yang mengalami kesulitan membedakan antara bunyi dan huruf, suku kata, dan kata-kata yang membentuk bahasa tulis.

Sangat penting bahwa instruktur menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa mereka untuk membantu mereka mengembangkan kesadaran fonologis. Kegiatan permainan bahasa untuk belajar membaca dapat menghasilkan lingkungan belajar. Ini tipikal anak muda yang masih asyik bermain. Perkembangan kognitif dan sosial anak sangat terbantu dengan bermain game.

Unit ini akan disampaikan oleh fasilitator dengan mendekatan andragogy. Guru sebagai peserta dalam pelatihan ini akan berperan aktif dalam proses pelatihan. Dalam unit ini akan disediakan bahan bacaan dan LK (lembar kerja) yang akan membantu Guru agar mudah dalam mengimplementasikan hasil pelatihan inservice training di unit 1 ini dalam kelas dalam kegiatan onservice training dan inservice training yang ke 2. Sementera waktu yang dibutuhkan dalam pelatihan inservice training ke 1 pada uni 1 adalah 180 menit.


B. Tujuan Khusus

Tujuan Khusus unit 2: Kesadaran Fonologis di modul ini, diharapkan guru mampu:

  1. Mengetahui bunyi setiap huruf alfabet.
  2. Mengetahui pentingnya peserta didik memiliki pola pikir yang terus berkembang dalam memfasilitasi/membantu peserta didik belajar membaca permulaan.
  3. Menjelaskan pentingnya kesadaran fonologis bagi pembelajar membaca permulaan.
  4. Mengidentifikasi kegiatan kesadaran fonologis yang mendukung kegiatan belajar membaca permulaan.
  5. Mendesain kegiatan kesadaran fonologis yang mendukung kegiatan membaca permulaan.

C. Manfaat.

Manfaat yang ingin dicapai:

  1. Sebagai sumber belajar guru dalam meningkatkan kompetensi pedagogis dan kompetensi professional guru melalui KKG.
  2. Sebagai sumber belajar guru dalam mengembangkan kurikulum, merancang persiapan dan pelakanaan pembelajaran yang bermakna dan mendidik.
  3. Sebagai dasar guru dalam merencanakan dan melaksanakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran peserta didik.
  4. Sebagai sumber belajar bagi peserta didik dalam mencapai kompetensi dasar.

D. Indikator Pencapaian Kompetensi Guru.

1. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.

  • Mengenal pentingnya membelajarkan bunyi kepada peserta didik.
  • Mengetahui tahapan dan keterkaitan setiap tahapan dalam pembelajaran literasi permulaan.
  • Mengetahui berbagai kegiatan, media dalam membelajarkan kesadaran fonologis.

2. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.

  • Merancang sintak pebelajaran yang mendidik (bermakna) dalam membelajarkan kesadaran fonologis.
  • Menentukan strategi dan media pembelajaran yang sesuai dalam membantu peserta didik belajar literasi dasar.

3. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

  • Menyiapkan berbagai kegiatan pembelajaran peserta didiik yang mendorong potensi peserta didik secara optimal.
  • Menerapkan pembelajaran yang mendorong keterilbatan aktif semua peserta didik, dengan memeprtimbangkan gender dan inklusi socia.

4. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

  • Mengetahui tahapan pembelajaran litersi dasar (huruf, bunyi, suku kata, kata, kalimat, kelancaran, pemahaman).
  • Mengatui hubungan setiap tahapan dalam belajar literasi dasar (bunyi, suku kata dan kata).

5. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.

  • Merancang scenario/rencana pembelajaran dalam mengajarkan kesadaran fonologis dengan menerapkan Pembelajaran Aktif, Kreatif, efektif dan;
  • Menyenenagkan dengan memperhatikan Gender dan inklusi social.

6. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan Tindakan reflektif.

  • Membuat catatan dan atau laporan penerapan pembelajaran yang dilakukan.
  • Melakukan refkleksi atas pembelajaran yang dilakukan dannmembuat rencana tindak lanjut.

E. Aplikasi dalam Kehidupan.

Belajar liiterasi dasar/permulaan tidak lepas dengan huruf, suku kata, kata dan kalimat. Namun yang sering terlupakan adalah bunyi huruf. Peserta didik yang kurang mengenal atau mengetahu bunyi huruf akan kesulitan melafalkan suku kata atau kata. Misal kata “Paku” dan “ Palu”, akan sulit bagi peserta didik yang kurang mengenal bunyi huruf “/k/ dan /l/”, dimana jika pada kontek kalimat, akan menhasilkan makna yang berbeda.

Dengan pelafalan huruf, suku kata dan kata dan penulisan yang tepat akan membantu peserta didik dalam berkomunikasi dan dipahami orang. Peserta didik yang mampu dengan baik membedakan dan melafalkan bunyi huruf akan lebih mudah dalam belajar bahasa, baik seacara lisan ataupun tulis.

Download File Power Point dan Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan MI Bidang Literasi DISINI DAN DISINI

Download juga File Power Poin PKB MI Bidang Numerasi berikut ini

PPT NUMERASI UP 1 Prinsip Numerasi MI DISINI

PPT NUMERASI UP 2 Growth Mindset DISINI

PPT NUMERASI UP 3 Asesmen DISINI

PPT NUMERASI UP 4 Bilangan (Bagian 1) DISINI

PPT NUMERASI UP 5 Bilangan  (Bagian 2) DISINI

PPT NUMERASI UP 6 Aljabar DISINI

PPT NUMERASI UP 7 PENGUKURAN DISINI

PPT NUMERASI UP 8 GEOMETRI DISINI

PPT NUMERASI UP 9 DATA DAN STATISTIKA DISINI

PPT NUMERASI UP 10 STATISTIKA DAN PELUANG DISINI 


Baca Juga

Modul Numerasi PKB MI DISINI

Modul Literasi PKB MI  DISINI

Modul Sains PKB MI  DISINI


BERITA TERKINI PKB
Posting Komentar
komentar teratas
Terbaru dulu
Daftar Isi
Tautan berhasil disalin.